RSS

Masih Berani Jajan Sembarangan?

Dulu, pas jaman SMA (gak usah ditanya ya tahun berapa :P) heboh berita saos yang terbuat dari tomat busuk dan bakso yang terbuat dari daging tikus. Sejak itu, kalau jajan makanan (di mana saja) hampir gak pernah pake saos kecuali makan fast food (kentang, burger, fried chicken) atau abang penjualnya terlanjur ngasih saos. Kalau sudah terlanjur, saya membuang saos sebisa mungkin dan tetap makan makanan yang sedikit tercampur saos.

Soal bakso, cukup lama saya menjauhi makanan ini. Jadi datar aja gitu ketemu bakso, padahal dulu seneng banget. Saya mau makan bakso kalau yakin dengan penjualnya. Yakin bahwa si penjual menggunakan daging sapi murni dan halal.

Dulu (gak inget tahun berapa) teman saya pernah numpang ke kamar kecil di warung bakso yang ia singgahi. Warung itu ramai sekali pembelinya. Mau tau apa yang ia temukan di sana? Taraaa…daging tikus tergeletak di lantai! Hiii… Teman saya langsung mual dan meninggalkan warung itu.

Selain daging tikus, yang perlu diwaspadai juga adalah daging babi. Harga daging babi yang murah menjadi pilihan penjual untuk menghemat biaya atau memperbesar keuntungan. Belum lagi pengawetnya. Miris banget ya! Negara dengan penduduk muslimnya terbesar di dunia masih seperti ini…

Kemudian saya ikut grup myhalalkitchen di fb. Bertambah lagi deh ketakutan saya. Saya tidak selalu mengikuti info di grup ini karena banyak banget notifnya. Biasanya saya stalking saat agak senggang. Hal yang perlu diwaspadai misalnya, kuas dari bulu babi, penggunaan angciu dalam masakan.

Itu dari segi kehalalan, belum lagi ke-thayib-an (baik untuk kesehatan). Misalnya, penggunaan plastik dalam menggoreng agar tetap crispy.

Jika dirangkum, inilah beberapa daftar makanan yang perlu diwaspadai:

1. martabak » kuas terbuat dari bulu babi. Info lengkapnya bisa dibaca di SINI dan SINI

2. seafood » penggunaan angciu untuk mengurangi amis dan agar rasanya lebih enak

3. nasi goreng, mie goreng, ayam goreng dkk » penggunaan angciu untuk menggoreng agar rasa lebih enak

4. mie ayam » penggunaan angciu

Info tentang angciu dapat dibaca di SINI dan di SINI

5. bakso » terbuat dari daging apa dan bahan pengawet (boraks). Cara membedakan bakso sapi dengan babi dapat di baca di SINI. Berita tentang bakso daging tikus (yang belum lama ini) ada di SINI

6. gorengan » penggunaan plastik dalam menggoreng. Infonya bisa di baca di SINI

7. somay » ikan busuk, beritanya ada di SINI

 

Berita yang ada memang di daerah tertentu. Namun, kecenderungan ini bisa terjadi di penjual mana saja. Berhenti sejenak saat berita begitu ramai, dan terulang kembali tahun-tahun berikutnya. Karena kita tidak mungkin mengontrol penjual sepenuhnya, yang bisa kita lakukan sebagai pembeli adalah lebih waspada dan kritis terhadap apa kita konsumsi. Ini baru contoh di penjual jalanan, belum ke restoran dan lain-lain.

Masih berani jajan sembarangan?

 

فيِ التَّأَنِّي السَّلاَمَةُ وَفيِ العَجَلَةِ النَّدَامَةُ

Di dalam kehati-hatian ada keselamatan, dan di dalam ketergesa-gesaan ada penyesalan.

 
Leave a comment

Posted by on January 19, 2015 in Wawasan

 

Waktu Siapa Yang Hampir Habis

Sekitar tahun 2008, saya berkenalan dengannya melalui yahoo messenger. Kemudian berteman di friendster dan bertukar nomer hape. Pembawaannya yang ceria dan supel membuat kami jadi cepat akrab. Kami jadi sering bertukar kabar via sms dan telp. Jarak ribuan km yang terbentang seolah tak berarti.

Pertengahan 2010, saya ada acara keluarga di Kisaran. Ia senang sekali saat saya mengabarinya tentang hal ini. Bahkan ia sampai cuti kantor untuk menjemput dan menemani saya beberapa hari sebelum kembali ke Jakarta. Ia harus naik angkot sekitar 5 jam, dilanjutkan naik bentor 1 jam melewati perkebunan sawit. Hujan, sinyal yang buruk dan gelapnya malam membuat perjalanannya makin “sempurna”.

Bukannya lelah, ia malah sibuk mengatur jadwal saya, agar di sisa 1-2 hari masih bisa mengunjungi beberapa tempat dan menginap di rumahnya. Dijemput dan diizinkan menginap aja udah seneng banget, ini masih diajak keliling Stabat dan mencoba kuliner di sana. Entah apa yang ia ceritakan tentang saya hingga ibunya membekali saya dengan oleh-oleh. Ia juga mengantar saya sampai ke bandara.

Karena kesibukan masing-masing, intensitas komunikasi kami berkurang. Sempat loose contact saat ia berganti nomer hape. Kondisi kesehatan yang (sering) memburuk juga bikin ia lebih pendiam.

Bulan Maret 2014, ia menikah. Keadaan saya waktu itu belum memungkinkan untuk hadir di pernikahannya. Ia cerita betapa beruntungnya ia dapat suami dan keluarga yang sayang dan menerima apa adanya.

Beberapa bulan lalu saya ingin membuat “surat cinta” untuknya. Semacam ucapan terima kasih telah hadir dalam hidup saya. Saya menunda-nunda dan hingga sekarang surat itu masih (saja) draft. Berterima kasih pada orang-orang yang hadir dalam hidup kita merupakan salah satu cara bersyukur padaNya. Mungkin sebab kehadiran mereka hidup kita jadi lebih cerah, jalan semakin mudah, atau bahkan membentuk karakter kita karena pelajaran atau kisah tak manis yang mereka torehkan.

Surat itu tak akan pernah ia baca, karena ia telah kembali pada penciptanya. Sri Yusra Azida Firidhallah, sahabat dan adik yang baik. Perekat dan harapan dalam keluarganya. Perempuan yang senang belajar, kreatif dan mandiri.

Firidhallah, semoga Allah benar-benar meridhainya dan memudahkan hisabnya.

 

 

Note: Jangan tunda apa yang ingin kamu lakukan pada orang yang kamu sayangi. Karena kita tidak pernah tahu waktu siapa yang hampir habis

 

Sri Yusra Azida, 28/12/1988 – 30/11/2014

*Firidhallah, nama yang ia tambahkan di fb setelah nama aslinya

 
Leave a comment

Posted by on January 19, 2015 in Wawasan

 

Dina dan Laki-Laki itu

Suatu hari, Dina dikenalkan (lagi) kepada seorang laki-laki. Kali ini, mediatornya adalah teman Dina dan suaminya. Suami teman Dina mengenalkan teman kantornya. Memang, usia Dina lebih dari cukup untuk menikah. Ada yang mengganjal dalam batin Dina, yang entah apa. Dina menunda-nunda pertemuan dengan berbagai alasan. Karena menghormati niat baik teman Dina dan suaminya, akhirnya Dina menjadwalkan pertemuan dengan laki-laki itu dengan didampingi teman Dina dan suaminya.

Dina dan laki-laki itu belum saling tukar biodata sebelumnya, jadi tak banyak yang satu sama lain ketahui. Setelah perkenalan, bertukar informasi diri dan keluarga, laki-laki itu menunggu jawaban Dina. Dina meminta waktu satu minggu untuk istikharah.

Selama ini Dina menjadi tulang punggung keluarga. Ia sadar betul jika sudah menikah istri menjadi tanggung jawab suami. Namun, tetap harus ada solusi agar kehidupan ekonomi keluarga Dina dapat berjalan dengan baik. Tak elok rasanya menjadikan alasan gaji yang kecil sebagai penolakan. Bukan kah Allah Maha Kaya? DIA mencukupkan segala kebutuhan hambaNya. Terlepas dari itu, manusia tetap harus memiliki rencana dan mengikhtiarkan yang terbaik yang mampu ia lakukan.

Laki-laki itu menginginkan istri rumahan, mengurus keluarga kecil binaannya.

“Apa solusi jika calon istri selama ini menjadi tulang punggung keluarga, sementara kamu ingin istri di rumah saja?” tanya Dina.

“Jalani dan lihat nanti saja…”, jawab laki-laki itu

***

Dalam masa istikharah, Dina mengirimkan pesan kepada laki-laki itu. Dina hanya bertanya apa rencana hidupnya dalam 5 tahun ke depan. Menurut Dina, dari rencana hidup ini kita dapat melihat alur berpikir seseorang, apa tujuan hidupnya, dan seperti apa keluarga (atau impian lain) yang ia inginkan/bina.

Laki-laki itu ingin belajar ilmu agama di suatu negara dan umroh. Dalam kelompok pengajian yang laki-laki itu ikuti (berdasarkan obrolan dan penelusuran Dina) belajar agama di negara tersebut adalah level tertinggi. Mereka menetap di sana selama sekian tahun, tanpa mengikut sertakan keluarga (istri dan anak-anak). Hhm, tak ada satu impian pun yang laki-laki itu sebut berkaitan dengan keluarga. Sedangkan Dina menginginkan suami yang family man, membesarkan buah cinta bersama-sama.

Selain menelusuri hidup laki-laki itu, Dina tetap istikarah. Karena jawaban terbaik memang hanya dari Allah. Tak ada keyakinan yang muncul di hati Dina untuk menikah dengan laki-laki itu. Proses ta’aruf Dina cukupkan sampai di sini. Dina sampaikan keputusannya kepada laki-laki itu.

 
Leave a comment

Posted by on October 17, 2014 in Keluarga

 

Bukan Kebetulan

Allah memberi sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Lagi-lagi Allah menunjukkan kebesaranNya melalui kisah di sekitar saya. Teman saya baru saja kehilangan suami. Suaminya meninggal 3 pekan yang lalu, 12 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Hari Raya yang harusnya dinikmati dengan penuh bahagia, menjadi bercampur duka baginya.

Teman saya ini masih muda, usianya 28 tahun. Rumah tangga mereka bahagia, dan sudah dikaruniai 1 orang putra. Suaminya meninggal 1 hari sebelum ulang tahun pertama putra mereka. Kenangan indah bersama sang suami terputar kembali seperti gulungan film yang ditayangkan ulang.

Menjadi single parent di usia muda bukanlah hal yang mudah. Peran yang harus dijalankan pun menjadi bertambah. Jika sebelumnya “hanya” menjadi ayah atau ibu, kini menjadi ayah dan ibu sekaligus. Belum lagi, jika ia seorang perempuan yang sejak menikah tidak berpenghasilan bagaimana caranya “melanjutkan” hidup. Bercampur dengan berbagai kekhawatiran akan masa depan, lengkaplah semua kesedihan…

Tadi pagi saya mendapat kabar bahwa teman saya ini diterima sebagai tenaga pengajar di sebuah SMP negeri. Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya. Semoga ini yang terbaik baginya. Setidaknya kesibukan sebagai pengajar dapat mengaburkan kesedihannya.

 

Ah ya, saya belum cerita bagaimana prosesnya teman saya sampai diterima di SMP negeri tersebut… begini ceritanya…

 

Background pendidikan teman saya ini D3 Pendidikan Tata Boga di UNJ, kemudian ia melanjutkan S1 jurusan Bimbingan & Konseling (BK) di salah satu universitas swasta. Karena jurusan yang ia ambil saat D3 dan S1 berbeda jauh, maka ia seperti mengulang kuliah dari awal.

Tahun 2008 ia pernah mengirimkan lamaran ke suatu SMP negeri. Tak ada panggilan kerja untuknya di sana. Saat itu, yang ia masukkan masih pendidikan D3-nya. Baru sekarang ia dihubungi untuk menjadi guru BK di sekolah tersebut. Ketika menikah di awal tahun 2012, teman saya ini masih menyelesaikan S1-nya.

Sejak tahun 2008 apakah hanya teman saya saja yang mengirimkan lamaran ke sekolah itu?

Mengapa sekolah itu tidak membuka lowongan baru saja untuk posisi guru BK yang tersedia? 

Mengapa sekolah itu masih menyimpan lamaran lama? 2008 hingga 2014…

Mengapa teman saya yang dihubungi? Bukankah background-nya saat itu masih Pendidikan Tata Boga?

Mengapa tawaran mengajar itu datang sekarang?

Semenjak punya anak, teman saya ini berhenti mengajar. Teman saya memang cinta sekali dengan dunia pendidikan. Mengajar adalah passion-nya.

Apakah semua ini kebetulan? Atau memang rencana Allah?

 

“…Allah mengatur urusan makhluk-Nya…” (Ar-ra’d:2)

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadiid:22)

“Katakanlah, sekali-sekali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (At-Taubah:51)

 

 
1 Comment

Posted by on August 8, 2014 in Wawasan

 

Surat Cinta buat Bapak

Assalaamu ‘alaykum,

Bapak sayang…selamat hari lahir ya. 24 Juni 2014, usia Bapak tepat 72 tahun. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah pemilik kehidupan. Dengan ijinNya, kita masih diberi nafas hingga detik ini.

Terima kasih ya pak sudah menafkahi kami, istri dan anak-anakmu, dengan baik. Bapak itu pekerja keras, gak bisa diam. Bahkan dulu Bapak pernah bekerja di dua tempat sekaligus.

Maaf kalau aku belum bisa mewujudkan impian bapak. Aku akan terus usaha dan berdoa. Bapak bantu doa juga ya… Doa orang tua itu makbul lho pak…

Ah ya, tanggal lahir kita kok sama ya pak? Tadinya aku kira itu hanya nebak-nebak, karena kan bapak orang dulu. Hehe… Maksudku, pas bapak lahir masih jaman perang tuh. Jadi mana ada akte kelahiran atau sejenisnya. Tapi setelah penjelasan panjang lebar dari bapak, ya aku percaya deh kalau tanggal lahir kita beneran sama… 😛

Bapak, mungkin aku gak pandai untuk mengungkapkan perasaanku. Rasanya canggung. Hhm, meski begitu…aku sayang sama bapak. Bagaimana pun keadaan bapak :*

Semoga Allah mengaruniakan hidayah untuk bapak ya, bapak mendapat kesudahan hidup yang baik, husnul khatimah. Aamiin…

Semoga Allah menghimpunkan keluarga kita di jannah-Nya. Aamiin…

 

Salam cinta,

anak perempuanmu 🙂

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2014 in Cerita Saya, Keluarga

 

Haramnya Dropship

Maraknya penjualan online belakangan ini membuat saya tergoda untuk ambil bagian didalamnya. Saya memilih untuk jadi dropshipper dari beberapa produk. Mendapat tambahan rupiah tanpa repot, tanpa modal, dan nyaris tanpa resiko benar-benar menggoda.

Oh ya, sebelum tulisan saya semakin panjang, ada baiknya kita mengenal beberapa istilah yang sering digunakan dalam penjualan online, seperti :

1. dropship : sistem bisnis yang memungkinkan kita menjual produk dari supplier kepada buyer (pembeli), tanpa perlu menyimpan stok, packing, dan pengiriman kepada buyer.

2. supplier : pemilik barang/toko, produsen

3. reseller. Dari kata dasarnya re = mengulang, seller = menjual, er = memiliki arti pelakunya.  Nah dari arti kata dasar tersebut, reseller berarti orang/pelaku yang menjual kembali dengan adanya produk fisik ditangan agen tersebut

4. dropshipper : agen yang menjual kembali produk suppliernya dengan TIDAK memiliki produk supliernya tersebut

5. buyer : pembeli

 

Setelah setahun menjalani dropship, ada keraguan yang menghinggapi saya. Sesuatu yang haram asalnya tidak menentramkan jiwa, dosa selalu menggelisahkan. Ada beberapa hal dalam dropship yang ternyata tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Imam Nawari rahimahumullah menjelaskan, “Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa.”  

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (HR Bukhari)

Dilema memang. Satu sisi, dari dropship saya belajar berjualan, berkomunikasi dengan pembeli, mengatasi masalah yang muncul ditengah jalan, dan pastinya menambah penghasilan. Di sisi lain, setelah mencari beberapa referensi, saya jadi ragu atas apa yang saya jalani. Saya lanjutkan diskusi dengan beberapa teman yang memiliki pemahaman agama yang baik, ternyata dropship itu diharamkan dalam Islam.

Untuk membahas ini diperlukan kajian lebih lanjut dan mendalam, namun secara singkat titik kritis haramnya dropship ada pada:

1. menjual barang yang bukan miliknya

Sahabat Ibnu Umar ra mengisahkan, “Rasulullah saw melarang dari menjual kembali setiap barang di tempat barang itu dibeli, hingga barang itu dipindahkan oleh para pembeli ke tempat mereka masing-masing.” (HR Abu Dawud dan Al Hakim) 

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, “Barang siapa membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia benar-benar telah menerimanya.” Ibnu Abbas berkata, “Dan saya berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan.” (Muttafaqun ‘alaih) 

2. potensi dusta 

Berharap mendapat keuntungan dari jual-beli bukan berarti menghalalkan dusta.

“Kedua orang yang terlibat dalam transaksi jual-beli, selama belum berpisah, memiliki hak pilih untuk membatalkan atau meneruskan akadnya. Bila keduanya berlaku jujur dan transparan, maka akad jual-beli mereka diberkahi. Namun bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi niscaya keberkahan penjualannya dihapuskan.” (Muttafaqun ‘alaih)

contoh dusta dalam dropship:

  • seolah-olah benar memiliki produk yang (akan) dijual, padahal yang dimiliki hanyalah foto-foto dan informasi tentang produk
  • no cancel. banyak sekali dropshipper yang menggunakan prinsip NO CANCEL, karena dropshipper sudah “terlanjur” memesankan/keep produk ke supplier
  • motif atau spesifikasi yang dipesan oleh buyer telah dibeli oleh buyer lainnya (hingga stok kosong). sebelumnya dropshipper bilang produk/stok ada, maka dropshipper harus meralat apa yang sebelumnya ia sampaikan
  • keterlambatan pengiriman dari supplier tanpa pemberitahuan potensial membuat dropshipper mencari-cari alasan atas keterlambatan tersebut
  • janji yang tidak ditepati atau kata dusta lainnya

 

Apa artinya bertambah harta namun mengundang murkaNya? Bukankah DIA Yang Maha Pemberi Rizki? Mengapakah kita mencari dengan jalan yang tidak disukaiNya?

Tiada yang lebih indah selain ridhoNya dalam setiap hembusan nafas kita. RidhoNya tak dapat turun begitu saja tanpa kesungguhan kita dalam memperjuangkan. Berhentilah sejenak, merenung, dan jujur pada diri sendiri, maka hati akan menunjukkan kecenderungannya. Jika Allah sudah ridho, segalanya akan mudah. Jika Allah sudah ridho, segalanya akan indah.

Untuk menepis sedih yang tersisa, lirih saya berdoa seperti yang Nabi ajarkan,

“Ya Allah, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal hingga aku terhindar dari yang Kau haramkan. Dan kayakan aku dengan karunia-Mu hingga aku tidak minta kepada selain-Mu.”

Serta berpegang pada hadits ini,

“Sesungguhnya engkau tidak akan meninggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari itu.”

 

 

Semangat hijrah di hari ulang tahun saya yang ke 17+. Semoga Allah meridhoi…

 

 

Tips Menghindari Kekerasan Seksual Pada Anak

Belum lama ini masyarakat dikejutkan oleh beberapa berita kekerasan seksual pada anak. Kasus terakhir, terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Adri Sobari alias Emon, 24 tahun, menyodomi ratusan anak. Emon merayu korban dengan tawaran sejumlah uang, antara Rp 25.000 – Rp 50.000. Sebelumnya, kasus lain yang terjadi di Jakarta International School (JIS), dimana pelakunya adalah petugas kebersihan di lingkungan sekolah.

Kasus “keteladanan”

Ada orang tua yang mengajak anak terapi ke psikolog dengan keluhan sang anak suka memegang kemaluan dirinya dan teman-teman/orang lain. Ketika ditanya, ternyata sang anak melakukan itu karena sering melihat ayahnya memegang kemaluan ibunya.

♣ ♣ ♣

Menyikapi terjadinya beberapa kejadian kekerasan seksual tersebut, serta kasus kekerasan seksual antar anak, remaja, dll, maka sikap orang tua:

  • berikan pemahaman tentang pentingnya menjaga diri. bahwa dirinya amat sangat berharga, tidak sembarang orang dapat menyentuhnya
  • tekankan pada anak agar berhati-hati terhadap sentuhan dari orang lain. ajari perbedaan sentuhan

» sentuhan baik: atas bahu dan bawah lutut

» sentuhan membingungkan: bawah bahu sampai atas lutut

» sentuhan buruk: sentuhan pada bagian-bagian yang ditutupi pakaian dalam.

AJARI anak bagaimana harus bersikap bila menerima sentuhan buruk dan membingungkan. Meski sentuhan itu dari orang laki-laki terdekatnya (paman, kakek, tetangga, bahkan ayahnya sendiri.

  • semaksimal mungkin hindari anak-anak dari gadget (smartphone, tablet, ipad), TV, komputer. Kalau mungkin karena alasan tertentu harus menggunakan gadget, orang tua tetap wajib mengawasi. Lebih baik berikan mainan untuk kegiatan fisik semisal; bola, sepeda, bowling-bowlingan, dan/atau buku-buku cerita pengetahuan, buku aktivitas. (Ingat: buku adalah investasi berharga yang kita tanam untuk anak), dan/atau mainan edukatif seperti; puzzle, balok, tangram, mainan sejenis lego, kartu-kartu yang mendidik, dll. semua ini sudah tersedia di toko buku.
  • berikan “underwear rule“. Aturan pada anak dalam berpakaian, di mana, kapan, pada siapa boleh membuka pakaian dalam. Jangan biasakan anak kita (usia balita) hanya memakai pakaian dalam saja saat di rumah, meski sedang bersama orang tua/anggota keluarga. Mulai beri pemahaman bahwa aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut, dan aurat perempuan adalah semua, kecuali telapak tangan dan wajah.
  • berikan aturan, sejak usia 7 tahun sudah dipisah tidurnya antara laki-laki dan perempuan. Dan tidak boleh tidur dalam satu selimut. Bila masuk kamar orang tua (pada saat sebelum shubuh) harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
  • orang tua tidak membiasakan diri hanya memakai handuk saja saat keluar dari kamar mandi. aturan ini juga harus dibiasakan pada anak
  • ajarkan anak untuk menolak pemberian dari orang lain, apalagi dari orang yang tidak dikenal. baik berupa barang/makanan maupun uang. ajarkan anak untuk menolak dengan halus, “Tidak, terima kasih.”
  • tidak berjalan/pergi sendirian di tempat yang sepi
  • bekali anak dengan kemampuan bela diri

 

no telp pengaduan jika ada tindak kekerasan pada anak di sekitar kita 021-31901446

 

sumber: seminar Ibu Elly Risman (psikolog) — dengan sedikit penambahan

 

 
Leave a comment

Posted by on June 6, 2014 in Wawasan

 

Tips Mendidik Anak Shalih

Ada chat masuk di grup WA yang aku ikuti. Rasanya sayang banget kalau tidak aku share kembali. Suatu hari nanti, aku dapat membaca kembali tips ini bersama suamiku. Menempa diri kami menjadi shalih untuk kemudian mengajarkannya kepada anak-anak kami. Anak-anak penghafal dan pengamal Qur’an. Menjadi cahaya dunia akhirat. In syaa Allah… ♥ ♥ ♥

 

Tips mendidik anak shalih, by bunda Wirianingsih

♥ Setiap hari diperdengarkan murottal

♥ Sang ibu mengajari sendiri dengan qiro’ati

♥ Menjelang tidur selalu diceritakan kisah para nabi dan rasul

♥ Jadwal dalam papan besar untuk belajar Al-Qur’an bagi 11 anak kami

♥ Ba’da maghrib dan ba’da shubuh adalah waktu interaksi dengan Al-Qur’an

♥ Selalu menyemangati anak, “Nak, ibu bangga sekali dengan kamu, meskipun sulit tapi kamu disiplin menyetorkan hafalan 2 ayat setiap hari.”

♥ Anak pertama dan anak kedua sejak usia 5 dan 4 tahun terbiasa bangun sebelum shubuh dan diajak shalat berjama’ah. Di komplek perumahan DPR RI si kecil sudah bisa menghafal siapa saja anggota dewan yang jarang sholat shubuh berjama’ah

♥ Jangan lupakan membangun dakwah di keluarga besar. Saat kami all out keluar rumah, keluarga besar kami lah yang terlibat mengawasi anak-anak

♥ Kami rutin berkunjung ke keluarga besar untuk menjalin hubungan baik dengan mereka

♥ Kesulitan dimasa pembentukan adalah faktor keistiqomahan. Harus konsisten mengontrol

♥ Memagari anak-anak dari pengaruh negatif. Ada agreement dengan anak-anak kapan saat menonton TV dan ada hukuman bila dilanggar

♥ “Nak, hafalanmu banyak, TV itu bisa memakan bagian pikiranmu.”

♥ Syukur kami tiada henti padamu ya Rabb atas karunia anak-anak kami

 

*Wirianingsih (Ibu dari 11 anak penghafal Al-Qur’an)

 

Semoga Allah mudahkan kita membentuk kultur shalih di keluarga kita. Aamiin…

 

cc. (calon) suamiku, my ♥ in life and after life 😉

 

 

 

 

 

Kangen Bos Lama

Tiba-tiba saja saya merasa kangen dengan bos saya yang lama. Ia mengundurkan diri dari kantor kami untuk sebuah pekerjaan baru. Saya mengenalnya sekitar 3 tahun. Sebut saja namanya Bu Wita.

Bu Wita adalah seorang yang cerdas, kreatif, berani, multi talent, optimis, dan visioner. Pikirannya jauh ke depan hingga terkadang kami harus mengerutkan kening dalam memahami maksud pembicaraannya. Ibaratnya kami baru di garis start, ia sudah beberapa langkah di depan. Ia selalu membuat rencana terbaik, dan siap dengan keadaan terburuk. Karena ia seorang yang perfeksionis, mau gak mau, memaksa kami untuk belajar dan mempercepat langkah.

Ia memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan dapat menggerakkan orang. Ya, ia memang mempelajari psikologi. Bu Wita bisa tau loh, kalau ada sesuatu yang kita sembunyikan darinya atau ketika berbohong. Secara halus ia dapat menggiring kita untuk bercerita apa adanya.

Saya pernah menghilangkan barang pribadi miliknya, yang ia berikan hak guna pakainya kepada saya. Barang yang harganya beberapa bulan gaji saya. Lazimnya seseorang yang punya salah, takut bertemu/bertatap muka. Saya juga jadi menghindar darinya, kecuali pertemuan “darurat” yang tak terelakkan. Karena merasa bersalah, suatu hari, saya membuat pengakuan dosa :D. Saya ceritakan apa adanya dan bagaimana barang itu bisa hilang. Bu Wita kecewa, namun ia memaafkan. Ia pun berkomentar, “Oh…pantesan kamu menghindar dari aku. Kayak gak mau ketemu aku. Ternyata gara-gara ini ya…”

Hihihi…ketauan deh…

Bu Wita tipikal orang yang sulit ditebak, dan cenderung galak. Kami sering menebak kira-kira apa yang akan bu Wita tanyakan/bicarakan kepada kami, sebelum kami masuk ke ruangannya. Biasanya ia juga meng-cross check informasi kepada beberapa orang. Pernah saya dan teman-teman satu divisi menyamakan jawaban sebelum menemuinya. Saat itu memang ada kemungkinan kesalahan yang kami buat. Pas di ruangannya, ia hanya bertanya sesuatu yang ringan dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kami. Hahaha…

Ada lagi  teman kami, yang setiap akan masuk ke ruangannya, berdo’a dulu. Kalau yang bernyali kecil, memang bisa bikin deg-degan bertemu dengannya. Walau sebetulnya, bu Wita orang yang baik…

Multi talented. Ia jago memotret, membuat slide presentasi, craft, public speaking, persuasing, dan membuat perencanaan jangka panjang. Dari Bu Wita, saya belajar untuk optimis dan berani bermimpi. Bagaimana membuat langkah-langkah untuk cita-cita saya. Ketika terjadi sesuatu diluar rencana, ia memberi alternatif solusi.

Saya kangen dengan Bu Wita. Kangen belajar tentang banyak hal. Meskipun ia cerewet, gak mudah percaya sama orang, dan cukup ribet. #eh (maaf bu… 😀 )

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 3, 2014 in Cerita Saya

 

Siap Menang, Tak Siap Kalah

Kamis pagi, 29 Mei 2014, saya menemani Sella lomba mewarnai di salah satu mal di daerah Bekasi. Ini pertama kali saya mengajak Sella, keponakan saya, untuk ikut lomba. Niat saya hanya ingin melatih keberanian Sella. Setidaknya, ia punya pengalaman ikut lomba mewarnai. “Oh, seperti ini ya… ”

Gak masalah ia menang atau kalah dalam lomba tersebut. Just have fun…

Lombanya ngaret 1,5 jam bo’! Ckckck…

 

Ada 2 kategori usia dalam lomba, yaitu A untuk usia 4-6 tahun dan B untuk usia 7-9 tahun. Sella masuk kategori B. A menempati sisi kiri area lomba dan B sisi kanan.

 

Pandangan mata saya tertuju agak lama pada anak-anak yang “siap” lomba. Mereka yang ikut les melukis di sanggar. Dapat dikenali dari perlengkapan yang mereka bawa, seperti jumlah/jenis crayon yang lebih banyak, sarung tangan, kuas, dan handuk kecil. Mungkin sekitar setengah peserta lomba ini adalah anak sanggar (yang berbeda-beda).

 

Nampak beberapa orang tua yang sibuk sekali memberi instruksi tegas apa saja yang harus dilakukan sang anak agar dapat mewarnai dengan bagus. Hihi…yang lomba siapa ya?! *mikir*

Secara umum lomba berjalan lancar.

 

Oh ya, yang duduk di samping dan depan (diagonal) Sella itu anak sanggar. Saya suka dengan hasil mewarnai anak yang duduk di depan Sella. Saya yakin ia masuk dalam 3 besar. Sedangkan yang di samping Sella, menurut saya, komposisi warnanya kurang pas dan agak bikin sakit mata… 😀 Meski memang teknik gradasinya rapi.

Lalu, menjelang jam 13.00 WIB hasil penilaian diumumkan. Seperti tebakan saya, anak yang duduk di depan Sella mendapat juara 2. Anak yang duduk di samping Sella tidak mendapat juara. Yah namanya juga lomba, pasti ada yang menang dan ada yang kalah kan? Biasa saja…

Banyak orang yang berkerumun saat pengumuman pemenang. Setelah berhasil mengambil beberapa foto, saya memilih menjauh dari kerumunan. Nampak seorang bapak dengan raut muka marah. Bapak itu berkata, “Panitianya aja bodoh…udah gak usah ikut lomba lagi!”

 

Sst, saya menguping pembicaraan mereka loh… :D. Intinya sih, si bapak yakin gambar anaknya bagus dan harus(nya) jadi pemenang.

Keluarga itu, pasangan suami istri dan dua anak, berjalan tergesa meninggalkan area lomba. Dari kejauhan saya perhatikan, ternyata anak bapak itu, yang duduk di sebelah Sella tadi. Ia tampak murung dan ingin menangis.

 

Siap Kalah

Orang tua sering memotivasi (atau menununtut ya?) anaknya untuk melakukan yang terbaik dan menjadi pemenang. Mungkin anak tadi sering memenangkan lomba mewarnai hingga sangat yakin kali ini ia akan menang lomba lagi. Tak hanya siap menang, baik orang tua maupun anak, harus siap juga untuk kalah. Jangan memaksa dan membebankan anak untuk selalu menang dalam kompetisi. Berlomba secara jujur, sekalipun hasilnya kalah, sesungguhnya adalah sebuah kemenangan. Jika kita dapat belajar dari kekalahan, maka sesungguhnya kita tidak kalah.

Pelajaran dari kekalahan:

  1. Mengakui kehebatan/kelebihan orang lain
  2. Melakukan yang lebih baik lagi
  3. Berjiwa besar
  4. Toleransi

Kalah bukan sesuatu yang buruk, jika dapat dimaknai dengan benar.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2014 in Opini

 

Konsekuensi Sepotong Do’a

Setiap orang pasti punya mimpi. Mimpi tersebut kita tuangkan dalam sepotong do’a padaNya. Hati-hatilah dengan apa yang menjadi do’amu. Karena do’a akan berlanjut dengan konsekuensi. Dan konsekuensi itu adalah bayaran untuk mendapatkan do’a yang terwujud nyata.

Saya punya beberapa big dream, salah satunya adalah merekatkan hubungan keluarga besar saya. Ini sudah saya azzamkan begitu kuat sejak -sekitar- setahun lalu. Bukan hal yang mudah, namun saya yakin pertolongan Allah. Bukankah menyambung silaturrahim juga suatu hal yang sangat disukaiNya?

Saya memulainya dengan yang paling dekat, yaitu keluarga inti. Saya memperbaiki hubungan saya dengan semua anggota keluarga inti, termasuk alm Mamak. Meski sudah tiada, ikatan hati antara Ibu dan anak tak akan terganti. Saya mengikhlaskan apa yang mungkin masih mengganjal dan meminta keikhlasan dari Mamak. Gak usah ditanya ya caranya gimana 😛 Dengan sengaja saya mencari hal-hal yang saya sukai dari mereka, serta berusaha memaklumi dan memaafkan yang tidak saya sukai.

 

 

Rasanya nano-nano deh…

Kadang ada sisi diri saya yang berkata,

“Kenapa sih mesti gue? Kan gue bungsu…”

“Kenapa gak bokap atau kakak gue aja yang mulai benerin?”

“Emang ini salah gue apa?”

dan kalimat sejenis.

 

Heiii…hellow…ini kan mimpi saya? Saya menuliskannya dalam daftar impian, melantunkannya dalam do’a. Mengapa saya minta orang lain yang melakukannya? (Aneh kan… *___*)

Law of attraction, om saya dan anaknya jadi sering berkunjung ke rumah kami. Bahkan pernah sebulan sampai beberapa kali, padahal biasanya dalam setahun dapat dihitung dengan satu tangan.

Saya berpikir bisa mengurangi kecepatan dan agak sedikit bersantai ketika keadaan mulai membaik. Gak perlu usaha banget…

Bulan lalu, saya dapat SP (Surat Peringatan 😀 ) dari Bapak karena saat libur jarang di rumah. Bapak meminta saya mengurangi kegiatan. Bapak tidak berbicara langsung, tapi lewat candaan. (Beginilah cara Bapak menegur saya 🙂 )

Saya memang terlibat (agak) aktif di sebuah komunitas menulis. Selain itu, hari libur sering saya gunakan untuk bersosialisasi dan mengembangkan diri.

Menjadi bagian dalam komunitas positif, berbagi, dan bermanfaat adalah hal yang menyenangkan. Ada setitik saya di sana. Namun di sisi lain, saya juga mencintai keluarga saya. Dari keluarga-lah kebahagiaan berawal.

Saya “menghilang” sejenak dari komunitas. Hanya satu dua orang yang saya ceritakan keadaan sebenarnya. Sempat ada yang khawatir, atau malah berprasangka buruk. Namun ya, tak semuanya dapat saya jelaskan…

Saya butuh waktu untuk menyendiri. Berpikir atas apa yang telah saya lalui. Mencari jawaban atas apa yang akan saya putuskan. Setiap impian harusnya saling mendukung, bukan berbenturan satu dengan yang lainnya.

Dalam perenungan, saya dapati SP dari Bapak itu konsekuensi dari mimpi saya, konsekuensi dari do’a saya. Allah ingin mengarahkan saya untuk mencapai impian. Dan saya, “hanya” harus siap dengan segala konsekuensinya.

Sangat wajar sebenarnya jika keluarga meminta waktu saya. Selain kualitas, kuantitas waktu juga penting dalam membina hubungan. Agar kami dapat lebih memahami satu sama lain. Berbagi cerita dan bercanda.

 

Saat mulai tenang, saya bicarakan hal ini kepada ketua (komunitas) secara baik-baik. Saya siap jika harus di-demisioner-kan. Ini mungkin yang disebut harga sebuah impian…

Setelah diskusi, ketua menerima dan menghargai penjelasan saya. Saya tetap berkomunitas, hanya frekuensi kehadiran offline-nya dikurangi. Memaksimalkan hal yang bisa saya lakukan/bicarakan secara online. Mengkomunikasikan dengan teman-teman yang lain untuk saling membantu.

Lega sekali rasanya semua mendapat jalannya. Alhamdulillah… Dan impian saya, setia menunggu untuk digenapi…sedikit demi sedikit 😉

 

 

 

3600 Detik

Film 3600 Detik yang baru dirilis tanggal 3 April 2014 ini, diangkat dari novel dengan judul yang sama. Novel tersebut diterbitkan oleh GPU @Gramedia. GPU mengadakan kuis #Tiket3600Detik kepada pembaca dengan menjawab pertanyaan, “Jika kamu hanya punya waktu 3600 Detik, kamu mau menghabiskannya dengan siapa dan melakukan apa?” 

 

Beragam jawaban muncul, dari yang santai, lucu, serius, menyenangkan hingga sedih…seperti beberapa contoh berikut ini…

* mau makan sayur bareng sahabatnya —> yang jawab ini mungkin gak doyan sayur 😀

* menunggu follback dari justin bieber dan stefan william

* mau bikin cap tangan warna-warni bareng keponakan 

* mau minta maaf sama semuanya

*  mau menghabiskan waktu sama mamaku dan bilang kalo hal terbaik yang aku dapetin di dunia ini adalah lahir sebagai anak mama

* bareng BFF, karena aku pengen pertemanan kita kembali seperti dulu, gak kaya sekarang yang lagi renggang 

* mau 3600 detiknya sama kaka kaka aku hang out bareng

* candle light dinner with my big family 

* mau jujur sama bapak, kalo aku sayang bapak walaupun aku jarang ngobrol sama beliau

 

Dalam pertanyaan kuis gak dibilang kalau 3600 detik itu waktu terakhir yang kita punya, jadi ya boleh-boleh aja kasih jawaban santai, lucu, hingga last wish seperti orang yang ajalnya sudah dalam dekapan. Jawaban serius dan last wish yang banyak muncul berhubungan dengan orang-orang tersayang. Ada yang mau mengungkapkan cinta ke orang tua, permintaan maaf, memperbaiki hubungan, menghabiskan waktu bersama, de el el.

 

3600 detik itu sama dengan satu jam. Bagaimana jika waktu yang kita miliki memang benar hanya satu jam? Sangat mungkin terjadi. Terkadang diri kita terbungkus selaput gengsi untuk mengucapkan sayang kepada orang tua atau meminta maaf kepada sahabat, padahal sangat menginginkannya. Jika memang sesuatu itu penting, tak perlu menunggu 3600 detik terakhir untuk melakukannya. Sampaikan sayangmu kepada orang tua SEKARANG. Sampaikan permintaan maafmu kepada orang di sekitarmu SEKARANG. Lakukan sekarang, jangan sampai menyesal kemudian. Mungkin 3600 detik ini bukan terakhir untukmu namun untuk orang yang kau sayangi. So, jangan tunda lagi ya…! 😉

 

Lakukan 3600 detik terbaik dari dirimu selalu ya sob! Salam 3600 detik…

 

 
Leave a comment

Posted by on April 7, 2014 in Cerita Saya, Opini

 

Karena Jodoh Itu Mudah

Sabtu, 2 Maret 2013 adalah hari yang membahagiakan bagi Shaliha dan Aidin. Allah berkenan menyatukan mereka dalam hubungan suci, pernikahan.

Saya belum lama mengenal mereka berdua, bahkan saat itu kami baru berjumpa satu kali. Sejauh ini saya mengenal mereka sebagai dua pribadi yang baik, in syaa Allah. Saya takjub dengan proses mereka menuju pernikahan terbilang singkat.

24 Nopember 2013 — kopdar perdana KBM Bekasi, yang berarti pertemuan pertama antara Shaliha dan Aidin.

KBM Bekasi merupakan salah satu komunitas menulis chapter Bekasi. Saya tidak aktif di grup ini, lebih sering hanya sebagai silent reader. Namun saya hadir di kopdar perdana KBM Bekasi. Saya ingat betul saat Shaliha menyapa saya kemudian berbincang. Ia gadis yang ramah dan shalihah, sesuai namanya.

KBM berawal dari grup online di fesbuk, lalu beberapa kali dilanjutkan dengan pertemuan offline alias kopdar. Oh ya, saya kedapatan grup 2 di fesbuk yang masih sepi. Komunikasi interaktif lebih terjalin di grup 1. Shaliha dan Aidin sama-sama di grup 1. Saya kurang tau kapan persisnya mereka mulai berteman secara online. Pastinya sebelum kopdar perdana ya.

Januari 2014 — ta’aruf

2 Maret 2014 — menikah

Berarti dari pertemuan pertama mereka hingga menikah waktunya sekitar 3 bulan. Lalu dari ta’aruf hingga menikah hampir 2 bulan. Masya Allah… Betapa mudah bagiMu menyatukan dua hati yang sebelumnya tak terdeteksi.

Ayah Shaliha telah tiada, dan ibunya tinggal di Aceh. Sedangkan ia ikut kakaknya di Bekasi. Saya mendapat undangan pernikahan mereka akhir Februari. Antara bahagia, shock, penasaran campur aduk. Pengen tau proses mereka seperti apa. Jadilah saya kepo tanya ke teman KBM Bekasi lainnya, dan sedikit “mewawancarai” mas penganten. Hehe…

Karena beberapa alasan proses meyakinkan ibunda Shaliha hanya melalui telepon, dan pernikahan dilakukan di Bekasi. Rencananya bulan depan mereka baru akan ke Aceh.

 

Allah…jika Engkau sudah berkehendak betapa mudahnya segala sesuatu (meski belum tentu juga sih bagi Shal dan Ai) 😀

Saya jadi teringat perkataan Esti, teman saya, tentang alasannya memilih dia. (saat itu Esti memiliki beberapa pilihan)

Aku gak terlalu berharap sama dia. Aku yakin banget kalau jodoh pasti Allah mudahkan, apapun kesulitannya. Sama dia, semuanya dimudahkan. Dari perkenalan keluarga, lamaran, dan persiapan pernikahan Allah mudahkan… Kurang lebih empat bulan prosesnya… Ya, aku yakin dia jodohku.

Orang tua Esti di Lampung, dan orang tua pasangannya di Yogyakarta. Esti bekerja di Jakarta, sedangkan pasangannya di pulau Kalimantan.

 

Jika teman-teman saat ini ada yang sedang dekat dengan seseorang dan berencana menikah, namun ada saja hambatannya. Bisa jadi dia bukan jodohmu. Karena jodoh itu mudah… 😉

 

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2014 in Cerita Saya

 

Makan Racun

Dalam setahun ini berat badan saya naik 6-9 kilo. Berat badan saya sejak SMA sampai terakhir (sebelum naik) kurang lebih 45 kg. Naik dikit trus turun lagi. Setianya di angka ini. Dulu, naikin sekilo aja susahnya minta ampun. Nuruninnya malah gampang banget. Stress dan memikirkan suatu hal teramat dalam…wussh…langsung melorot deh berat badannya. Memang niatnya di angka 50 agar gak terlalu kurus.

Basicly, saya ‘biasa saja’ terhadap makanan. Ada makanan syukur, gak ada no problemo.

Dalam kamus saya hanya ada 2 jenis makanan, yaitu enak dan biasa aja. Mungkin bagi pecinta kuliner, ada enak banget, enak, biasa, nggak enak, nggak enak banget dalam memberikan penilaian kepada makanan. Ceritanya sih, saya berusaha untuk tidak mencela makanan yang tidak disukai oleh indera pengecap saya makanya hanya ada enak dan biasa aja. Makanan enak sudah jelas ya seperti apa, bikin pengen nambah pastinya. Selebihnya saya namakan makanan biasa aja (termasuk didalamnya makanan yang kurang/tidak enak)

Makanan yang kurang/tidak enak membuat saya bersyukur. Aneh ya makanan kurang/tidak enak kok malah bersyukur? Hhm. nggak aneh kok…kita bisa bersyukur untuk indera pengecap yang masih dalam keadaan baik, dapat membedakan rasa enak dan tidak enak. Alhamdulillaah…

Amazing banget rasanya pas berat saya lebih dari 50. Ternyata gue bisa ya! *nyengir*

Hhm, mungkin juga berat badan saya naik karena lebih membebaskan pikiran dan hati, gak terlalu ambil pusing n mikirin sesuatu. Enjoy it… Selain itu, meski gak mencari-cari makanan, saya melahap segala yang di sekitar saya. (Hihi…kok jadi kayak monster begini ya!)

Sudah di angka 50 nih. Lho kok berat saya naik lagi? Terakhir nimbang itu 54 kg. Jujur ya, saya fine-fine aja dengan berat segitu, malah senang. Namun sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya.

Badan saya mengirimkan ‘tanda sayang’ nya. Saya tambah sering lelah, tambah gampang ngantuk, malas de el el…

Usut punya usut, si badan ternyata protes karena saya memasukkan makanan sampah. Demi kesehatan, saya gak boleh makan gorengan (atau mengurangi semaksimal kemampuan saya), perbanyak air putih, buah-buahan, protein nabati, no fast food, kurangi nasi, daging.

Selama ini saya memang pemakan segala, gak ada pantang-pantangan…

 

Sebagai permohonan maaf kepada badan saya, saya berusaha memperbaiki makanan saya.

Oke mulai…

Yang harus saya lakukan adalah mengubah makna makanan.

makna lama: makan apa aja boleh, semua halal kecuali yang dilarang

makna baru:  memberikan asupan sehat untuk tubuh agar dapat beraktivitas dengan baik

 

Ditambah doktrin dari Miyosi, “Makanan enak tapi gak sehat itu ibarat ada laki-laki melihat perempuan cantik yang bukan istrinya. Gak bisa diapa-apain. Seperti racun.”

makanan enak tapi gak sehat  –>  racun  –>  jangan dimakan/minum

oke, noted!

 

Allah pasti menguji kesungguhan hamba-Nya. ‘Ujian’ pertama untuk sehat itu datang. Saya suka sekali dengan gorengan, apa saja, termasuk yang di pinggir jalan, yang konon katanya pakai minyak bekas, dicampur plastik, dan lilin. *hoek

“Gorengan, Yun…” teman saya menawarkan.

“Nggak…makasih.”

“Gorengan, Yun…” ia mengulang kalimatnya karena tidak percaya saya menolak

“Nggak…makasih.”

Teman saya terbengong beberapa saat. Dengan gaya cool saya meninggalkannya dan membiarkannya tetap bengong. Hehehe…

 

Inilah yang ada dalam benak saya saat teman saya menawarkan gorengan.

gorengan, Yun… (makna yang saya terima dia sedang menawarkan RACUN)

nggak, makasih (nggaklah, ngapain gue makan RACUN)

Hihihi… saya paham dia gak bermaksud meracuni saya. Malah niatnya baik, ingin berbagi. Namun, saya harus berusaha menetapi janji kepada si badan. Saya mau sehat.

Makan adalah memberi asupan sehat untuk tubuh agar dapat beraktivitas dengan baik

Itulah makna makanan bagi saya. Saat ini saya menggangap makna ini benar. Jika dalam perjalanan saya menemukan makna yang lebih baik, saya akan meng-update-nya.

Selamat makan… Selamat sehat ya… 😉

 
3 Comments

Posted by on February 28, 2014 in Cerita Saya

 

Bersih-Bersih Utang

Ada satu panggilan tak terjawab di hape saya pagi ini. Tertulis nama, 91 Salamah. 91 adalah nama sekolah saya dulu, dan Salamah ini adik kelas saya. Kami jarang sekali berkomunikasi. Kalau ia sampai menelpon, kemungkinan besar ada sesuatu yang penting.

 

Berikut obrolan saya dengan Salamah melalui SMS.

+ Iya Sal, ada apa?

– Lagi sibuk ya? Ku mau minta tolong. Inget mbak Evi angkatan 2000? Tau rumah atau hapenya gak? Ku punya utang ma dia…

+ Mbak Evi? Atau mbak Eva kakaknya Ika?

– Evi yang kuliah di Darma Persada dulu..

+ Nggak inget yang mana, hehe

– Dulu gue pernah main ke rumahnya, ama siapa gitu…lupa… Trus kupinjem CD konser nasyidnya dia. Ku gak inget lagi. Sekarang baru tau kalo CDnya belum dibalikin. Ampun dah ah… Kalo tanya mbak Eva tau kali ya? No hapenya masih sama gak?

(Ika dan saya satu angkatan. Ika ini adiknya Mbak Eva yang satu angkatan dengan Mbak Evi… *jangan bingung ya*)

+ Aku kontakan sama Ika. Ini no Ika 0816xxxxxxx. Coba tanya aja. Hiks hiks lagi inget-inget n bersih-bersih utang ya Sal? 😥

– Ya nih… Makasih ya…

 

Saya teringat dengan hadits,

Jiwa seorang mu’min masih tergantung bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya. (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits lain,

Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni, kecuali utang. (HR. Muslim)

Betapa besar keutamaan melunasi utang, hingga orang yang mati syahid, yang pahalanya sangat banyak, mendapat jaminan surga saja, haruslah menyelesaikan utangnya terlebih dahulu.

Mungkin mudah bagi kita mengingat sebagian kejadian dan utang, tapi ah bagaimana dengan masa yang telah lalu? Adakah utang kita di sana? Sudah beres semuanya? Utang tidak hanya uang, dapat juga janji yang belum digenapkan, barang yang belum dikembalikan, atau yang lain.

Setidaknya Berniatlah Melunasi Utang

Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah. (HR. Ibnu Majah)

Untuk teman-teman, sahabat, keluarga, kerabat, atau siapa pun yang kenal saya. Jika ada utang saya kepada kalian, tolong ingatkan dan tagih saya ya. Apapun itu, in syaa Allah saya akan berusaha melunasinya. Saya ingin menyelesaikan semua urusan saya di dunia ini dengan baik. Mohon maaf dan keikhlasan juga atas segala sikap dan lisan yang tak berkenan. Saya takut pada hari ketika tak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi utang.

Ya Allah, lindungi kami dari berbuat dosa dan beratnya utang. Mudahkan kami untuk melunasinya.

 

19 Februari 2014

Yang selalu mengharapkan ampunan dan ridho Rabb-nya

 
Leave a comment

Posted by on February 19, 2014 in Life Beautifully